Bolang Christmas Invasion episode 4


Baca episode sebelumnya klik di sini

Lokasi : Rumah target terakhir
26 Desember 2009 pkl. 22.30
Perjalanan dilanjutkan menuju target terakhir hari itu, sebenarnya sudah sangat terlambat karena pasukan Bolang dan target sudah berjanji untuk bertemu pkl 9.00 malam. Dan dengan sangat menyesal, saya mewakili pasukan Bolang mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya. Akibatnya, ternyata rumah target telah sepi dan pasukan BOLANG harus kecewa karena harus pulang dengan hampa.
Ekspedisi hari itu berakhir.

Minggu, 28 Desember 2009
Lokasi : Rumah sudiang

Sambil menikmati tayangan TV yang sangat-sangat gak nikmat dipenuhi dengan tayangan gossip dan film anak, lewat hp sederhana, gue ngecek status facebook. Dan tertuju pada status kanda Tyas yang berbunyi tentang ekspedisi sekaligus invasi pasukan BOLANG harus berakhir karena pasukan yang memilih untuk berlibur dan mudik. Btw, selamat sampai tujuan buat teman-teman yang memilih mudik.
Dan akhirnya, BOLANG Christmas invasion 2009 dinyatakan berakhir.


TAMAT


Nb. Nantikan kisah pasukan BOLANG berikutnya tentang kemeriahan malam Tahun Baru. Bila tidak ingin terlewatkan segeralah kembali ke Makassar dan berkumpul di Sekret dalam perayaan malam tahun baru.Bagi yang berminat ikut dan info lebih lanjut hubungi ketua.

Makassar 28 Desember 2009


Attonk.


Disclaimer :
Semua peristiwa dalam tulisan ini hampir nyata, bila ada penggunaan nama, tempat, dan sesuatu dalam tulisan ini itu memang kenyataan dalam rangka menghindari gossip yang lebih besar.
Tulisan ini hanya dapat dibaca oleh orang-orang yang ditag. Jadi tolong hati-hati kalau ingin mentag orang untuk menghindari pencemaran nama baik. Maaf bila ada yang tersakiti dengan note ini. Semua itu benar-benar tidak disengaja dan tulisan ini telah disensor berates-ratus kali (lebay dikit) untuk mencegah semuanya) di atas semua itu. Gue cuma manusia biasa yang bisa salah dan kilav. Weeeeiiittzzzz


We wish you merry Christmas
We wish you merry Christmas

We wish you merry Christmas


And Happy New Year


Merry Christmas 25 Desember 2009

Bolang Christmas Invasion episode 3

Yang baca wajib kasih komentar

Baca episode sebelumnya klik di sini
26 Desember 2009 pkl. 17.00
Lokasi : Sekret KMK

Berhubung cuaca tidak mendukung seperti hari kemarin, setelah melewatkan waktu beberapa jam di rumah target ditemani beberapa botol minuman maka diputuskan untuk kembali ke sekret KMK. Lagi-lagi yang belum liat silakan baca di sini.
Waktu dihabiskan dengan bermain kartu. Pemenangnya tidak jelas (bukti boleh dilihat di sekret kalau masih ada). Menjelang jam 9 malam, setelah kasak kusuk dan menjadi fotomodel sesaat, invasi dilanjutkan ke target tertunda S*****.

Untuk foto berikut tolong jangan dipersepsi lain. Cuma bantu kerja tugas tawwa
Liat gurat-gurat senyumnya di foto ini !!!Pasukan bolang kembali beraksi


Di sana telah menunggu "kata yang lain" dijuluki J****o OL. Kalau ada yang bertanya siapa j*****o OL itu, silakan kirimkan identitas dan pertanyaan anda dengan mengetik Reg spasi KMK kirim ke sekret langsung. Ha ha ha. Masalahnya bisa jadi gossip lagi kalau ditulis namanya mengalahkan gosipnya anak kapal yang mau bikin kapal yang dua bede propellernya ditambah pake rem otomatis…
Kembali lagi thanx buat rumah yang telah diinvasi karena menyediakan yang kita butuhkan. Makanan dan minuman. Waktu semakin larut , namun tidak berasa, banyak kisah cinta yang terungkap, banyak rahasia yang sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terangnya dan ada senyum yang terlukis di wajah lelaki berbaju hijua tua karena pesan singkat (baca SMS) yang mungkin dari seseorang yang berlibur ke Toraja. Meski ada pula wajah sedih dari seorang anak T*****k yang menyembunyikannya di bawah kursi mendengar betapa beratnya saingan untuk mendapatkan anak Tanjung itu. Yah, iya hanya seorang petugas parkir di gereja Kare. Hikz hiks hikz. Ternyata di tengah suasana natal yang meriah ada juga sedikit kesedihan. Tapi untuk sahabatku ini, aku mengingatkan pesan yang disampaikan pastor B***y saat malam natal, untuk mendapatkan sesuatu ada P R O S E S.
Ada pula kisah yang secara langsung untuk pertama kalinya “dengan menggunakan istilah M***a” teletubbies H%^**r berpelukan (ralat berjabat tangan). Mantabbb memang tong rumahmu S*****. Kapan-kapan pasukan BOLANG akan berkunjung lagi, tapi siapkan yang lebih banyak lagi. Ok ?


Kisah BOLANG belum berakhir

Silakan baca episode berikutnya

Nb. Revisi terakhir anak KMK yang menyembunyikan wajahnya di bawah kursi sepertinya tidak lama lagi akan mengakhiri masa jomblonya dan keluar dari grup Jomblo di facebook meskipun dalam percakapan terakhir masih berencana untuk ikut acara Jomblo New Year Gathering 2010 yang diadakan oleh MCS Community. “Akhirnya waktu menjawab siapa yang akhirnya menjadi pemenang."

Revisi terakhir 29 Desember 2009 7:31 pm untuk menghindari tuntutan dari undang-undang

Bolang Christmas Invasion episode 2

Yang baca wajib kasih komentar
Baca episode sebelumnya klik di sini

26 Desember 2009 pkl. 12.30
Lokasi : Rumah Sudiang

Di antara pesan-pesan natal yang mengalir ke hp sederhana [maaf gak bisa sebut merek] , sampai sebuah pesan baru dari 085299270xxx. Isinya seperti ini :
Itsss time to BOLANG … Plend lanjutkan silaturahmi ( baca invasi bolang. red) hari ini , ke prof. xxxx (maaf lagi-lagi gak boleh sebut merek) , pak A&*s, ma Humznya pak Y%$^ep …
Langsung ke sekret ktemu dsn …
Hery


Wow .. it’s showtime. Maka tak sampai pkl 14.00 sampailah saya di sekret baru KMK UNHAS. Bagi yang belum liat tempatnya silakan baca artikelnya di sini. Sudah berkumpul pasukan-pasukan Bolang yang siap tempur. Ha ha ha. Ada Hery dan Ny. Lian, Yuli, Kanda Habel, Tyas, Apet . Btw, dua nama terakhir benar-benar paling menjiwai jadi pasukan Bolang. Sambil menunggu beberapa pasukan Bolang lainnya, waktu diisi dengan bermain J**&r (Kalo ada pk police yang baca : hanya sebatas main pak. Gk pake judi. Jadi tolong jangan ditilang. He he he).
Beberapa calon rumah target pun dihubungi

Plan A :
“Sher , tolong siapkan rumah . kami mau ke situ sekarang !”
Sayangnya balasannya sebagai berikut :
“Nanti malampi. Gak bisa kalau sekarang .

So Plan A cancelled

Plan B :
X : Ada tidak Jupe’ di rumahnya ?
Y : Gak ada. Tadi pagi keluar kotaki. Nanti malampi bede baru ada di rumahnya.
X : Owww

Plan B cancelled too

Plan C :
Heri : Kalau begitu kita jalanmi saja. Ke Prof S****** mo dulu.
Ok.
Plan C sudah di-acc

Perjalanan dimulai dari sekret, kami mengendarai motor ke rumah target yang berjarak sekitar 150 meter ( itu kalau mutar lewat depan tapi kalau lewat belakang langsungji kyknya).
Anjing di rumah target menyambut kami dengan meriah. Sayangnya , target sasaran tidak ada di rumah.
Lagi-lagi pasukan Bolang belum beruntung hari ini. Perjalanan dilanjutkan ke daerah Telkomas menuju target kedua
Tidak ada anjing yang menyambut kami hanya info bahwa target pun sedang keluar menonton. Hhhmmm. Kodong bisanya Bolang sangat-sangat tidak beruntung.
Setelah menyusun plan baru. disetujui bahwa dibuat alternative target. Letaknya di blok L BTP. Rumah pak B@#to. Entah karena alasan apa, yang jelas alasannya tidak jelas, L yang membonceng Y berbelok ke kanan diikuti oleh Kanda H (maaf nama harus disamarkan , takut terjadi gossip yang menyebabkan masalah di kemudian hari) sementara kami yang lain berbelok ke kiri dan melanjutkan invasi ke rumah target.
Btw, terima kasih untuk pak Barto yang telah menjamu kami dengan baik. Thx buat sprite dan teman-temannya yang telah kami nikmati di rumah bapak. He he he.
Tamat …
Belum, kisah pasukan bolang masih berlanjut. Silakan baca di artikel berikutnya …

Kisah Pasukan Bolang : Christmas Invasion 2009

Yang baca wajib kasih komentar
Dalam rangka memeriahkan Natal setelah ditinggal mudik teman-teman KMK UNHAS, penghuni sekret KMK yang tidak pulang kampung mengadakan invasi. Peserta yang ikut di antaranya Heri sebagai ketua, Tyas, Kristo, Lian, aLe’, Vicky, Jono, Apet, dkk.
Invasi dimulai di rumah keluarga besar sdri Conny dan Lulu’ selepas tengah hari 25 Desember 2009. First of all, thank you buat tuan rumah yang telah menjamu para Bolang dan Merry Christmas. Maaf merepotkan. Xie xie xie
Look at the picture below …

Yang gak ikut pasti nyesel. Tapi tenang dalam doa makannya, Lian tetap teringat kalian-kalian yang tidak bisa bersama-sama menikmati makanan dan minuman seperti yang disajikan tuan rumah. Doanya Lian kira-kira begini ( menggantikan pegawai keuskupan yang menurut kabar sedang pulang kampung ):
Kami juga teringat akan orang-orang yang tidak dapat menikmati makanan dan mengalami kekurangan. . .
Invasi belum berakhir, selepas menikmati hidangan natal di rumah pertama, invasi berlanjut. Kali ini yang menjadi tuan rumah adalah sdri Vivian. Perjalanan dari perintis kemerdekaan daya dilanjutkan ke daerah Antang. Cuaca kurang mendukung dengan mendung yang secara tiba-tiba menguyurkan hujan tanpa peringatan. Tapi semangat Natal pasukan BOLANG lebih besar dari sekedar ultimatum hujan...

Kembali thx buat tuan rumah yang tlah menjamu pasukan Bolang dengan sangat baik. Berhubung cuaca yang semakin tidak bersahabat dan malam yang telah menuju pertengahan, invasi hari itu berakhir.
Nantikan kisah pasukan Bolang berikutnya …
Nb. Episode Kisah Pasukan BOLANG dari episode 1 sampai tamat akan “ditayangkan” di blog KMK UNHAS. Untuk mengunjunginya silakan klik di sini

Sekret baru KMK UNHAS


Jumat, 18 Desember 2009 pkl 19.00, KMK UNHAS mengadakan ibadah bulanan sekaligus sebagai peresmian sekretariat baru KMK UNHAS. Sekret KMK UNHAS yang baru bertempat di Perdos UNHAS Tamalanrea blok AG no 23. Ibadah tersebut dipimpin oleh kanda Ale dengan mengambil tema tentang “Cinta Kasih” yang diambil dari 3 Ptr 4 :7-16 (Ale benar mi ayatnya ?) .


4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
4:12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
4:13 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
4:15 Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
4:16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.




Ibadah tersebut dihadiri oleh teman-teman yang telah tergerak untuk mengembangkan KMK UNHAS dan beberapa alumni yang memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan KMK UNHAS seperti kanda Habel dan Ryan. Setelah ibadah dilanjutkan dengan evaluasi persiapan acara KMK UNHAS berikutnya yaitu Natal KMK UNHAS. Info dan keterangan lebih lanjut bisa ditemukan di forum diskusi grup KMK UNHAS.


Kami menantikan partisipasi dari teman-teman mahasiswa Katolik semua fakultas di UNHAS yang ingin bergabung membangun KMK UNHAS. Silakan datang di sekret baru KMK UNHAS – Perdos UNHAS blok AG no 23.

Tiga Hal yang Manusia tidak Tahu

Tulisan ini adalah copy paste dari sebuah blog yang pernah saya baca dan kembali teringat setelah kejadian di Tanjung Bayang (Raker KMK UNHAS) 18 Oktober 2009


Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah
seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel. Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.

Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, “HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. “Simon, siapa ini? Mana mantel barunya? “

Simon mencoba menyabarkan Matrena, “Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.

“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!” “Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih? “Matrena menatap wajah pria asing itu,mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat.
“Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. “Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya
aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”

“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”, demikian Simon menjawab.

Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”

“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.

“Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.

Simon menjawab, “Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju
ini.

Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan.
Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. “Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum.

Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, “Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. “Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk
penjara karena….”

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. “Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.

“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail
tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.

Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, “Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?”

Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”

“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena. Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, “Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.”

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, “Nanti dulu Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, “Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku,

‘MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:

PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ?
KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA ?
KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA ?

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas
kasih?” Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:

“YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”

“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:

“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADADI TANGAN TUHAN”

“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:

“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.

Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak (sbuah renungan)

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.
Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. "Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun," pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, "Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi." Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar. "Aku rasa mungkin karena wajahku ... Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..." Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: "Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat." Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di veranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. "Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan." Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini. Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang punggung.
Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu ber-kat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak2.

Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi." Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa krasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu." Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat.

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya, mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan[timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, "Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki." Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman."

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu -- dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini. " Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7b)

Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau perduli.. Teruskan ini, dan gembirakanlah hari seseorang. Tak ada sesuatupun yang akan terjadi bila kau tidak meneruskan ini. Tapi satu2nya yang akan terjadi bila kau toh melanjutkan kiriman ini ialah, bahwa seseorang mungkin akan tersenyum [gara2 kamu]. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.